1 tahun 5 bulan, selama itu Brotherly Craze of Secular ada, walau cuma kita ber-3 dan honey yang mengakui keberadaan kami. Tanggal 13 adalah tanggal yang benar-benar ditunggu setiap bulannya. Hari ini kita kumpul-kumpul lagi, dengan harapan bisa sharing tentang masalah yang akhir-akhir ini kita alamin masing-masing.
± 12.00 WIB bodoh dan blo’on sampai di base came BCS, ‘oon house.
Awal kisah, semua berjalan baik-baik saja. Seperti biasa, main sama keponakan dan adik-adik ‘oon, makan sore, dan ngerumpi ria…
Sharing sesi 1 – nggak terlalu membantu, masalah terungkap, solution is nothing. We can’t do anything. Tapi seenggaknya tujuan hari ini tercapai.
Teman.. sahabat.. kekasih.. Apa artinya semua itu, jika ada sesuatu yang menjanjikan lebih dari semua itu. Sebuah keluarga lain dari keluarga yang selama ini kami miliki. Memperindah bukan memperburuk, membuat perbaikan bukan merusak yang ada. Semua itulah janji dari keluarga lain yang kami nikmati saat ini.
Dunia kami memang berbeda, tetapi apakah semua itu menjadikan keterbatasan bagi kami antara satu sama lain ?.. Hidup ini tidah pernah menjanjikan keabadian, salah satunya keabadian akan suatu kebahagiaan. Inilah jembatan yang telah menyatukan perbedaan kami, bendungan kokoh yang menjebak kami dalam satu kubangan air yang dalam.
Teman. Teman hanya akan ada disaat kita bahagia, tapi saat kita berada dalam posisi yang sulit dimana mereka ? tetapi SAHABAT.. mereka selalu ada, saat senang maupun susah, saat air mata menetes untuk sebuah kegelisahan maupun kebahagiaan. Sahabat adalah keluarga lain yang memberikan makanan batin, dan memberikan perlindungan pikiran. Semua itu lebih dari cukup untuk mempertahankan kehidupan ini selama satu dekade penuh.
Nggak tahu kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu, jam 3… jam 4…
Obrolan masih berlanjut, rasanya ada aja hal-hal yang bisa dibahas. Menjelang jam 5 sore, kondisi memanas… ‘oon diajak kakaknya tercinta ke tempat bisnisnya, tinggal bodoh dan blo’on sama nyokap, ade’ dan keponakan ‘oon disini. Awalnya cuma nanya-nanya seputar hal-hal yang umum, lama-kelamaan jadi sharing sesi ke-2 tanpa ‘oon.
Kita berkiblat pada nyokap ‘oon, berbincang seputar pola asuh anak, cita-cita, dan semua hal yang sebelumnya nggak pernah terungkap, terutama bagi bodoh. Seperti memiliki seorang guru yang mau membimbing dan mengingatkan, nyaman rasanya sore itu. Lagi-lagi waktu berlalu begitu cepat..
Selepas adzan magrib berkumandang, bodoh minta dianter pulang blo’on. Tapi semua ini nggak berakhir bagitu aja, sempat ada perdebatan kecil. Akhirnya satu solusi ditemukan, sekiranya ’oon bisa tidur nyenyak malam ini. Tapi perdebatan bodoh dan blo’on terus berlanjut di sepanjang perjalanan pulang, sayangnya perpisahan hari ini kurang mulus bagi bodoh dan blo’on. Semoga semua ini bukan akhir dari segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar